Sukoharjo – Koperasi Pertiwi Hijau Sejahtera mulai memasok ribuan butir telur dari peternak lokal ke dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sukoharjo dan Klaten sebagai upaya memperkuat rantai pasok pangan lokal.

KSU Pertiwi Hijau merupakan koperasi perdagangan yang memasarkan produk-produk pangan sehat dari petani dan UMKM dengan prinsip kekeluargaan. Anggota dari KSU terdiri dari para petani, pelaku UMKM, dan juga staf begitu juga pengurus Yayasan Gita Pertiwi.

Pengadaan pangan sehat di sekolah menjadi aspek penting untuk pemenuhan gizi anak pada saat belajar. Selama kurang lebih 6 jam anak-anak menghabiskan waktunya di sekolah. Sebelum adanya makan bergizi gratis yang diselenggarakan oleh pemerintah, Kantin menjadi pintu masuk anak-anak mendapatkan akses pangan di sekolah.

Kantin dan dapur makan bergizi gratis (MBG) ini menjadi konsumen strategis dari supplier yang menyuplai bahan baku pangan. Sebagai pemenuhan gizi untuk anak, bahan baku yang di suplai harus benar-benar sehat dan jelas asal-usul produknya. Hal tersebut penting untuk memastikan apa yang dikonsumsi oleh anak-anak adalah makanan bergizi, sehat dan aman.

Usaha suplai telah dilakukan oleh koperasi pertiwi hijau sejahtera untuk mendukung pengadaan pangan sehat dan bergizi di sekolah melalui dapur MBG. Suplai dalam hal ini merupakan upaya untuk memasarkan produk petani kepada konsumen melalui unit usaha yang ada di koperasi.

Sejumlah 2300 butir telur asin di antarkan untuk memenuhi kebutuhan makanan bergizi gratis di SPPG Sukoharjo Grogol Parangjoro oleh KSU Pertiwi Hijau. Telur menjadi salah satu kebutuhan dapur dengan jumlah yang cukup banyak karena sumber protein yang mudah didapat dan ketersediannya selalu ada. Selain itu telur juga dapat diolah dan dimasak dalam berbagai menu.

Telur-telur tersebut berasal dari Sumadi Farm yang berpusat di Boyolali. Selain itu, Koperasi Pertiwi Hijau juga menginisiasi hubungan tersebut dengan SPPG lainnya di daerah Klaten dengan mensuplai 6000 butir telur ayam dan 7500 butir telur puyuh pada 3 Mei 2026.

Menurut Akbar sebagai inisiator program pangan Gita Pertiwi, Inisiasi ini bisa menjadi salah satu solusi bagi para peternak yang menghadapi masalah fluktuasi harga. Program makan bergizi gratis memberikan kepastian penyerapan oleh SPPG mitra.

Sebelumnya, KSU Pertiwi Hijau melakukan penawaran secara langsung ke masing-masing dapur SPPG meskipun tidak semuanya langsung tembus, pihak koperasi terus menjalin komunikasi dan memberikan informasi produk terutama harga yang bersaing setelah mendapatkan kontak pengelola dari dapur SPPG.

“Suplai ini diharapkan nantinya dapat membantu memasarkan produk-produk pertanian dan peternakan kepada konsumen melalui unit usaha yang ada di Koperasi Pertiwi Hijau Sejahtera.” Ujar Akbar 3 Mei 2026.

Bagi pihak SPPG mereka mendapatkan jaminan produk yang bermutu dengan harga yang kompetitif, jaminan ganti rugi jika terdapak produk yang tidak sesuai, dan pengiriman sesuai jadwal yang diinginkan.

Selanjutnya, yang menjadi tantangan adalah stabilitas produksi telur, fluktuasi harga pakan, dan kemampuan logistik. Maka dari itu, Akbar berharap agar adanya penguatan kapasitas kelembagaan koperasi, baik dalam aspek manajemen usaha, administrasi, maupun pengelolaan kemitraan bisnis.

“Dukungan pemerintah dan stakeholder lain sangat diperlukan dalam bentuk pelatihan, akses pembiayaan, dan pendampingan teknis.” Terangnya.

Akbar menilai, Inisiasi suplai telur oleh Koperasi Pertiwi Hijau Sejahtera ke dapur MBG merupakan langkah strategis dalam mendukung keberhasilan program pangan nasional sekaligus memperkuat ekonomi lokal berbasis koperasi.

Melalui model kemitraan dengan peternak ayam petelur, koperasi dapat menjadi penghubung utama dalam menjaga stabilitas pasokan pangan bergizi bagi anak sekolah. Tidak hanya dapur SPPG melainkan beberapa sekolah juga mulai disuplai produknya seperti aneka sayur dan buah melon hasil dari panenan petani secara langsung. Konsumen di sekolah terdiri dari guru, penjual di kantin, dan juga orang tua siswa. Ke depan, Koperasi Pertiwi Hijau Sejahtera menargetkan lebih banyak SPPG untuk bergabung dalam kemitraan pemenuhan pasokan bahan-bahan yang berasal dari peternak lokal.