KLATEN—Sejumlah daerah mulai melakukan inovasi untuk menjawab problem regenerasi petani di Indonesia. Di Kabupaten Klaten, Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, merancang kawasan pertanian terpadu untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengajak anak muda nyemplung di dunia pertanian.

Merujuk data Badan Pusat Statistik tahun 2020, ada 64,50 juta penduduk Indonesia berada dalam kelompok umur pemuda. Namun, persentase pemuda yang bekerja di sektor pertanian hanya 21%. Jumlah ini berada di bawah sektor manufaktur sebanyak 24% dan sektor jasa sebanyak 55%. Kepala Desa Pundungan, Danang Setiawan meyakini kawasan tersebut dapat menarik minat anak muda karena bakal dikonsep sebagai kawasan wisata dan pembelajaran tentang pertanian. Ada pula kafe sebagai tempat menongkrong. “Kami akan menata kawasan ini menjadi kawasan yang indah secara bertahap. Nantinya orang bisa bersantai sambil belajar.”

Kawasan bernama Lumpung Pangan Masyarakat Desa (LPMDes) Mandiri Pangan (Mapan) ini tak hanya memiliki area pertanian, tapi juga peternakan, perikanan, budidaya buah, penggilingan padi, pembuatan pupuk kompos hingga tempat pengolahan sampah (TPS 3 R). Kompleks yang berada di sisi Sungai Pusur tersebut diresmikan Bupati Klaten, Sri Mulyani, pada Selasa (27/12/2022). “Selama ini regenerasi petani susah. Petani di sini usianya rata-rata sudah 50 tahun lebih. Harapannya kawasan ini tak hanya menyejahterakan petani, tapi juga mengundang generasi muda untuk mengelolanya,” ujar Kepala Desa Pundungan, Danang Setiawan, di sela peresmian LPMDes Mapan Desa Pundungan.

Saat ini pembangunan kawasan telah mencapai 70% dengan dana Kementerian Pertanian dan Pemkab Klaten senilai hampir Rp2 miliar. Danang merencanakan pembangunan bakal berlanjut hingga 2025 dengan dukungan dana dari daerah hingga pusat. Pada tahun 2023, pemerintah desa setempat bakal membangun sanggar tani yang berfungsi sebagai wadah edukasi terkait pertanian, ketahanan pangan hingga ekonomi sirkular.

Di LPMDes Mapan, ekonomi sirkular diwujudkan dengan pengelolaan kotoran ternak menjadi kompos. Kompos tersebut nantinya digunakan sebagai pupuk untuk lahan pertanian. Limbah penggilingan padi berupa arang sekam juga dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar mesin penggilingan hingga media tanam. “Kami ingin mengubah mindset bahwa petani itu tak cuma jualan hasil panen, tapi juga bisa membagikan ilmu dan pengalamannya. Itu bisa menjadi penghasilan juga buat mereka,” ujar Kepala Desa.

Sebagai informasi, pengelolaan kawasan terpadu dilakukan gabungan kelompok tani (gapoktan) dengan pemasaran melalui badan usaha milik desa (BUMDes) setempat.

Pengelola menggandeng mitra yakni Yayasan Gita Pertiwi dan PT Tirta Investama (TI) Klaten untuk menunjang pengolahan dan pemasaran hasil panen. Direktur Program Gita Pertiwi, Titik Eka Sasanti, mengatakan keterlibatan di LPMDes menjadi kelanjutan pendampingan lembaganya di Desa Pundungan sejak 2019. Sebelumnya Gita Pertiwi dan PT TI fokus pada perbaikan saluran irigasi dan budidaya pangan sehat. “Sekarang kami akan mencoba membantu LPMDes dari segi pemasaran atau pascapanen. Bentuknya bisa berupa fasilitas hingga support teknologi,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Corporate Social PT TI Klaten, Joko Santoso, mengatakan pihaknya berkomitmen membantu LPMDes dari segi pengelolaan bisnis yang berkelanjutan. “Kami akan memperkuat bisnis berasnya. Kami ingin menegaskan Klaten sebagai ikon lumbung beras Nasional.”