
Surakarta, 10 Juni 2026 — Setiap hari, aktivitas di sekolah menghasilkan sampah. Mulai dari sisa makanan, daun yang berguguran, hingga kemasan makanan dan minuman yang digunakan oleh warga sekolah. Meski sering dianggap sebagai hal biasa, sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak bagi lingkungan, mulai dari pencemaran hingga menurunnya kualitas lingkungan belajar.
Sebagai ruang belajar bagi generasi muda, sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan budaya peduli lingkungan. Pengelolaan sampah yang baik tidak hanya menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter yang mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.
Sebagai langkah awal dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang lebih baik, SMP Negeri 1 Karangnongko bersama Yayasan Gita Pertiwi melakukan pemetaan kondisi persampahan di lingkungan sekolah. Langkah ini dilakukan untuk memahami karakteristik sampah yang dihasilkan sekaligus mengidentifikasi peluang perbaikan menuju sekolah yang lebih ekologis dan berkelanjutan.
Riset timbulan sampah dan brand audit dilakukan sebanyak enam kali pengamatan yang menyesuaikan hari aktif kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 1 Karangnongko. Pengamatan dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih representatif mengenai jumlah, jenis, dan sumber sampah yang dihasilkan dari aktivitas sekolah sehari-hari. Berdasarkan hasil analisis, SMP Negeri 1 Karangnongko menghasilkan rata-rata timbulan sampah sebesar 16,837 kg per hari. Timbulan sampah tertinggi terjadi pada hari kelima (Kamis) pengamatan dengan jumlah mencapai 20,442 kg. Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh tingginya timbulan sampah organik berupa dedaunan yang dihasilkan dari aktivitas pemeliharaan lingkungan sekolah, serta meningkatnya sampah kemasan dari aktivitas konsumsi warga sekolah.
Sebagian besar sampah yang ditemukan terdiri atas sampah organik berupa dedaunan dan sisa bahan alami lainnya, serta sampah anorganik yang didominasi kemasan makanan dan minuman. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas sehari-hari di sekolah menghasilkan timbulan sampah yang cukup signifikan dan memerlukan pengelolaan yang terencana agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan sekitar.
Selain mengukur jumlah sampah yang dihasilkan, pemetaan ini juga mengungkap sejumlah tantangan dalam pengelolaan sampah di sekolah. Sampah masih cenderung dikumpulkan pada satu titik tanpa pemilahan yang konsisten, sementara sebagian sampah masih dikelola dengan cara dibakar. Padahal, pemilahan sampah sejak dari sumber merupakan langkah penting untuk memudahkan proses pengolahan dan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Di sisi lain, pembakaran sampah berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan maupun kualitas lingkungan.
Meskipun demikian, sekolah sebenarnya telah memiliki fasilitas pendukung berupa bank sampah. Tantangannya adalah bagaimana mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas tersebut agar dapat menjadi bagian dari budaya pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh warga sekolah. Sebagaimana telah disampaikan pihak sekolah (T, 45 Tahun):
“fasilitas bank sampah sebenarnya telah tersedia, namun pemanfaatannya belum optimal. Selain itu, sebagian besar sampah berasal dari kemasan makanan dan minuman yang dibawa dari luar sekolah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya membutuhkan sarana dan prasarana, tetapi juga perubahan perilaku seluruh warga sekolah.”

Hasil pemetaan sampah kemudian didiskusikan melalui Forum Group Discussion (FGD) yang melibatkan pihak sekolah, siswa yang tergabung dalam Green Team, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Klaten, tim fasilitator DLH, serta Yayasan Gita Pertiwi. Melalui diskusi tersebut, para pihak sepakat untuk memperkuat pengelolaan sampah di SMP Negeri 1 Karangnongko melalui pemilahan sampah dari sumber, pengolahan sampah organik dengan metode kompos, jogangan, atau biopori, pengembangan bank sampah sekolah, penyusunan regulasi pengelolaan sampah, serta pendampingan berkelanjutan dari DLH Klaten dan Yayasan Gita Pertiwi guna mendukung terwujudnya sekolah yang lebih peduli dan berbudaya lingkungan.
Melalui penguatan edukasi, pembiasaan memilah sampah, serta pengelolaan sampah yang lebih baik, SMP Negeri 1 Karangnongko memiliki peluang besar untuk menjadi sekolah yang lebih peduli lingkungan. Mewujudkan perubahan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah. Langkah sederhana seperti memilah sampah dari sumber, mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai, dan mengoptimalkan bank sampah dapat menjadi awal terciptanya lingkungan sekolah yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
