SOLO—Sekolah memiliki peranan besar dalam membentuk karakter anak. Hal ini karena sebagian waktu mereka habis untuk pembelajaran di sekolah. Upaya mengatasi masalah lingkungan pun bakal ideal jika ditanamkan sejak dini di bangku sekolah. Dengan demikian, karakter peduli lingkungan bakal mereka bawa hingga dewasa.

Latar belakang tersebut membuat Yayasan Gita Pertiwi menginisiasi kolaborasi dengan sekolah dalam program Ban the Big Five. Program tersebut menolak penggunaan lima jenis sampah plastik yakni kantung kresek, sedotan, sachet, styrofoam dan microbead. Jenis-jenis sampah tersebut menjadi bagian dari penyumbang timbulan sampah terbesar di Indonesia selama ini.
Dalam Forum Ban the Big Five yang digelar di Hotel Dana Solo, Kamis-Jumat 23-24 Februari 2023, lima sekolah di Soloraya berkomitmen mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan mereka. Kelima sekolah tersebut adalah SDN Cemara Dua No.13 Solo, SMPN 9 Solo, SMPN 3 Solo, MI Muhammadiyah PK 1 Sukoharjo dan SMPN 3 Colomadu, Karanganyar.

Perwakilan sekolah menandatangani kerja sama tentnag program penguatan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Di hari pertama forum, sekolah diberi penyuluhan seputar bahaya sampah plastik, Sekolah Adiwiyata, identifikasi plastik sekali pakai dan riset profil sampah di sekolah. Di hari kedua, siswa melakukan praktik riset profil sampah didampingi Gita Pertiwi, organisasi yang menjadi anggota Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI).
Pegiat Sekolah Adiwiyata, Suryono Arief Wijaya, mengatakan pendidikan tentang isu lingkungan penting ditanamkan sejak anak-anak. Jika hal tersebut gagal dilakukan, Arief mengatakan anak muda bisa semakin apatis dengan problem lingkungan. Arief membeberkan 72% masyarakat Indonesia tidak peduli dengan permasalahan sampah merujuk data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2018. “Efeknya banyak yang abai dengan potensi sampah dari plastik sekali pakai, misalnya,” ujar dia.
Pihaknya mencontohkan pemakaian sedotan di Indonesia mencapai 93 juta batang per hari. Jika sedotan itu dijejerkan, panjangnya sama dengan jarak Jakarta dengan Mexico City (16.784 km). Konsumsi sedotan, imbuhnya, bisa setara tiga kali keliling bumi jika dihitung per pekan (117.449 km). Tingginya timbulan sampah plastik memicu pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan hingga perubahan iklim. “Indonesia memproduksi 64 juta ton sampah plastik sehari, terbesar kedua di dunia. Hal ini harus diubah, dimulai dari diri kita,” ujar Arief pada siswa dan pengajar yang hadir dalam forum.

