Artikel

Retno Kushariani, Kartini Pelopor Ketahanan Pangan Keluarga

Nama Lengkap         : Retno Sri Kushariani
Nama Panggilan       : Retno
Alamat                       : Kresekan, Pundungan, Juwiring, Klaten
Usia                           : 44 tahun
Pekerjaan                  : Wirausaha

Pandemi Covid-19 memberi dampak yang luar biasa bagi masyarakat, baik di kegiatan sosial, ekonomi dan budaya.  Dampak yang sangat dirasakan oleh perempuan di pedesaan adalah berkurangnya ruang untuk bertemu dan bertambahnya biaya rumah tangga (konsumsi) karena untuk menjaga imu tubuh. Retno Sri Kushariani, atau akrab disapa Retno sangat memperhatikan hal ini.  Apalagi sebagi istri ketua RW 02 yang cukup aktif di desa Pundungan, Kec. Juwiring, Kab. Klaten.

Untuk memotivasi para perempuan, khususnya ibu-ibu tetap bisa produktif di masa pandemi, maka Bu Retno mengajak untuk memfungsikan pekarangan sebagai lumbung hidup agar ketahanan pangan keluarga bisa terjaga. Menanam hortikultura (sayur dan buah) dengan memanfaatkan pekarangan dan lahan komunitas menjadi kegiatan bersama di RW 02.

Bu Retno mengkoordinir ibu-ibu melalui PKK RW 02 untuk menanam sayur dan buah bersama dengan media polybag dan galon belah. Jenis tanaman yang ditanam adalah sayuran yang biasa dikonsumsi warga yaitu cabai, tomat, terong, sawi, bayam, dan kangkung. Bu Retno juga memonitoring perkembangan tanaman ke masing-masing warga. Saat pertemuan PKK RW 02, Bu Retno juga memfasilitasi ibu-ibu untuk membagikan pengalamannya dalam merawat sayur.

Selama 3 bulan melakukan budidaya hortikultura, tanaman bisa dipanen yang hasilnya dimanfaatkan oleh warga untuk dikonsumsi sendiri. Dan hasil tersebut mampu mengurangi belanja sayur keluarga sebesar Rp 2.000 – Rp 3.000/hari atau setara dengan Rp 60.000 – Rp 90.000 /bulan/keluarga. Ini artinya pengeluaran sayur hemat 30%-45%.

Dari keberhasilan tersebut, bapak-bapak warga RW 02 dan pemdes Pundungan mendorong untuk mengelola tanah wakaf menjadi lahan bersama atau lahan komunitas. Dukungan tersebut disambut baik oleh Bu Retno. Beliau berkoordinasi dengan ketua RW, Kepala Desa dan juga Gita Pertiwi untuk menyusun perencanaan dan desain lahan. Persiapan lahan dilaksanakan bersama, sedangkan perawatan Bu Retno membagi ibu-ibu PKK menjadi beberapa kelompok untuk melaksanakan piket. Di lahan komunitas ditanam beberapa jenis sayuran (terong, cabe, kacang panjang, seledri, sawi), buah (pepaya, jeruk nipis), empon-empon (jahe, kencur, kunyit, temulawak). Hasil dari lahan komunitas dinikmati oleh semua warga RW 02.

Awalnya, RW 02 memang menjadi demplot budidaya hortikultura di pekarangan. Namun, beberapa RW lain juga tertarik untuk mengembangkan budidaya hortikultura. Saat ini RW 05 juga memiliki lahan komunitas untuk budidaya hortikutura sebagai lumbung pangan komunitas. Lahan komunitas RW 05 berada di kebun milik salah satu anggota PKK dan pengelolaan dilakukan oleh anggota PKK. Jenis tanaman yang ditanam yaitu aneka sayuran seperti kangkung, sawi, bayam, kacang panjang, timun, cabe, dan mbayung. Hasilnya dijual ke anggota PKK dan pendapatan hasil penjualan masuk ke kas PKK.

Tantangannya, warga sekitar lahan komunitas terpapar covid-19. Sehingga kegiatan piket harian untuk merawat tanaman yang ada di lahan komunitas sempat terhenti.

Share:
RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
Twitter