PANGAN SEHAT HIDUP SEHAT

  • PDF
  • Print
  • E-mail

TALK SHOW GITA PERTIWI & RRI Programa 1 FM 105.5 MHz

Jumat, 9 Maret 2012

1. Pangan Sehat

Dalam menciptakan generasi sehat yang mempunyai kualitas terbaik, pangan sehat menjadi poin penting yang harus diberikan pada setiap orang. Dengan pangan sehat, manusia diharapkan dapat menciptakan karya terbaiknya melalui pengoptimalan produktifitas makanan dari aktivitas mereka.   Lebih dari itu, makanan sehat dan layak dikonsumsi manusia adalah justru terbuat dari bahan makanan alami dan tidak tercampur dan melibatkan proses kimia. yaitu produk organik seperti beras, sayur-sayuran, buah-buahan dan berbagai produk makanan olahan yang tidak menggunakan bahan berbahaya misal zat pengawet seperti formalin boraks, dsbnya.

 

2. Kampanye pangan sehat

Perlu diupayakan berbagai kegiatan untuk mengkampanyekan pangan sehat dan penyadaran konsumen agar mengkonsumsi pangan yang lebih sehat. Mengapa demikian? Karena kasus keracunan pangan di Indonesia masih cukup tinggi dan meningkat dari tahun ke tahun, Hal ini dipicu pula oleh kebiasaan konsumen pangan yang lebih menyukai makanan instan dan praktis yang mengandung berbagai bahan kimia yang berbahaya, sedangkan makanan yang bahan berbahaya tersebut akan menimbulkan berbagai penyakit kronis. Sementara itu perlindungan terhadap konsumen pangan masih lemah dan belum ada sanksi tegas terhadap produsen yang melakukan pelanggaran terhadap hak konsumen untuk mendapatkan produk yang aman dan sehat.

 

3. Konsorsium Solo Raya

Konsorsium Solo Raya adalah jaringan 3 lembaga yang peduli akan pemenuhan pangan sehat pada masyarakat di Solo Raya yang terdiri dari Gita Pertiwi, Jaringan Kerja Pertanian Organik Indonesia dan LSK Bina Bakat. Kegiatan KSR adalah untuk penyadaran konsumen pangan sehat di Solo Raya dengan menyebarluaskan informasi tentang pangan sehat agar mendorong masyarakat konsumen untuk mengkonsumsi pangan yang aman dan sehat sehingga akan menciptakan sumber daya manusia yang sehat dan kuat. Pendekatan yg dilakukan adalah dengan meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan praktek pangan sehat sehingga konsumen secara mandiri mampu mengadvokasi dan menentukan produk pangan mana yang akan mereka konsumsi

 

 

ASAL USUL PANGAN SEHAT

  • PDF
  • Print
  • E-mail

TALK SHOW GITA PERTIWI & RRI Programa 1 FM 105.5 MHz

Jumat, 24 Februari 2012

 

Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) hingga sekarang.

Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an. Capaian produksi padi saat itu bisa 6 — 8 ton/hektar.
Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin rusak, semakin keras dan menjadi tidak subur lagi.

 

Sawah-sawah kita sejak 1990 hingga sekarang telah mengalami penurunan produksi yang sangat luar biasa dan hasil akhir yang tercatat rata-rata nasional hanya tinggal 3, 8 ton/hektar (statistik nasional 2010). Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahun yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik. Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya. Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini. Masih perlu waktu agar petani bisa melihat tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

Asupan pupuk kimia dan pestisida yang menjadi tumpuan kegiatan pertanian modern, saat ini menjadi sorotan tajam berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Sisa-sisa pestisida tidak hanya menempel tetapi juga meresap ke dalam hasil pertanian seperti sayuran sehingga tidak hilang ketika dicuci bahkan dengan air mengalir sekalipun. Cemaran ini jelas mengancam kesehatan keluarga kita. Hal yang sama terjadi pada bahan pengawet dan penambah rasa pada makanan olahan industri.

 

Pertanian Organik (Budidaya Tanaman Sehat)

Pangan sehat dapat kita usahakan melalui budidaya organik tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintetik buatan pabrik. Budidaya organik adalah proses pertanian yang dilakukan secara alami dengan memanfaatkan sumber daya lingkungan, termasuk menjaga keseimbangan ekosistem dan lahan. Sumber daya lingkungan yang dimaksud adalah potensi petani dalam mengolah lahan pertanian secara terpadu dengan keragaman tanaman dan ternak sehingga dapat dikelola secara berkelanjutan. Dari proses seperti ini akan terjadi suatu siklus yang saling menguntungkan antara tumbuhan dan hewan juga keterlibatan manusia sebagai pelaku usaha.

Tumbuhan dapat memanfaatkan sampah dan kotoran hewan untuk menunjang pertumbuhannya. Hewan dan manusia dapat memanfaatkan hasil tumbuhan untuk menunjang kehidupannya. Budidaya secara alami dikelola tanpa adanya asupan kimia untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Kearifan lokal petani dalam menentukan pola tanam menjadi andalannya. Untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman diberikan pupuk kandang dari kotoran ternak dan kompos dari pengolahan sampah hijau/organik. Hama penyakit tanaman dikendalikan dengan cara rotasi tanaman dan keragaman tanaman serta pelestarian musuh alami. Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan pangan yang dihasilkan melalui bertani secara alami mengandung nilai gizi, rasa dan tingkat keamanan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan pola pertanian konvensional yang banyak menggunakan bahan-bahan kimia di dalam pupuk dan pestisidanya (Jaker PO, 2009).

Bertanam padi organik pada dasarnya sama saja dengan bertanam padi secara konvensional atau non organik. Jenis padi yang ditanam pun  boleh apa saja, misal kelas aromatik (pandan wangi, mentik, gilirang, dll). Bisa juga menggunakan varietas unggul seperti IR64, Cisadane, Memberamo, dll. Bahkan padi dalam (umur panen rata-rata 6 bulan) dan padi hibrida pun dapat diusahakan menjadi padi organik. Perbedanya adalah pada pertanian organik  Memakai pupuk organik dan tidak memakai pupuk kimia,  tidak memakai pestisida dan herbisida kimia

Namun ada beberapa pihak misalnya Jaker PO yang memberikan persyaratan berbeda untuk pertanian organic, diantaranya yaitu bibitnya bukan dari hasil rekayasa genetika dan tidak menggunakan bibit hibrida. Mereka  memandang kalau masih menggunakan bibit hibrida sebatas sebagai pertanian sehat tanpa bahan kimia.

 

Dalam bertanam padi secara organik, pupuk yang digunakan sebagai sumber hara berasal dari pupuk organik seperti : kompos, pupuk kandang, atau sisa tanaman (jerami) yang dibenamkan ke tanah. Kelebihan pupuk organik adalah berperan dalam mengembalikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sementara untuk mengendalikan hama, penyakit, gulma (tanaman pengganggu / rumput) dilakukan secara manual atau dengan menggunakan pestisida dan herbisida alami.

Komponen utama pertanian organik adalah memanfaatkan limbah pertanian untuk proses daur ulang digunakan sebagai pupuk tanaman. Termasuk juga sistem pengolahan tanah yang berasaskan konservasi, pergiliran tanaman, memanfaatkan tanaman penutup tanah, pemeliharaan ternak, dan analisis tanaman, maupun uji tanah. Selain itu juga menghindarkan penggunaan pestisida/insektisida maupun pupuk kimia serta bahan agrokimia lainnya.

Pada umumnya dalam melakukan budidaya padi organik, para petani tidak langsung mengubah sistem, tetapi secara bertahap. Pada musim pertama, para petani masih mengaplikasikan pupuk kimia (Urea, TSP, KCl) sesuai anjuran, tanpa pestisida/herbisaisda. Namun sudah mulai ditambah kompos. Kombinsi ini dipertahankan sampai pada musim tanam kedua.

Memasuki musim tanam ketiga dan keempat, pemakaian pupuk kimia diturunkan. Sedangkan penggunaan kompos dinaikkan menjadi 2 ton per hektar. Dan pada musim tanam ke lima dan keenam aplikasi pupuk kimia diharapkan bisa ditinggalkan atau maksimal 10 %. Pemakaian kompos ditambah menjadi 2.5 - 3 ton/ha. Untuk pengelolaan dan pengendalian gulma (tanaman pengganggu / rumput) misalnya dengan cara manual misalnya dengan cara dicabuti dan dikembalikan di antara barisan tanaman. Gulma ini menjadi bagian dari bahan pupuk organik.

 

Sementara itu untuk mengendalikan hama penyakit dengan mengembangkan keragaman ekosistem melalui pergiliran tanaman, atau mengaplikasikan biopestisida. Bertanam padi secara organik tetap menguntungkan. Saat ini harga gabah kering panen untuk padi organik rata-rata selisih Rp. 200,- per kg dibandingkan padi konvensional. Selain itu kesuburan lahan dan kelestarian ekosistem dapat terjaga, poin ini yang tiada ternilai.

Cara untuk mendapatkan beras organikpun sekarang ini lebih mudah karena semakin banyaknya petani yang mulai menyadari akan pentingnya kelestarian ekosistem sekaligus adanya tuntutan untuk melakukan efisiensi usaha pertanian. Salah satu distributor beras organic yang ada di Solo adalah Koperasi Gita Sejahtera yang beralamatkan di Jl. Baturan, Colomadu, Solo. Sebelah barat kantor kelurahan baturan.

 

PANGAN SEHAT

  • PDF
  • Print
  • E-mail

TALK SHOW GITA PERTIWI & RRI Programa 1 FM 105.5 MHz

Jumat, 10 Februari 2012.

 

PANGAN SEHAT

Menurut UU Pangan No. 7/1996, Pangan adalah kebutuhan hidup manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia untuk mewujudkan sumberdaya yang berkualitas untuk pembangunan nasional. Mengingat pentingnya fungsi pangan tersebut maka kita perlu melihat bagaimana ketersediannya, distribusi, konsumsi pangan dan kewaspadaan terhadap pangan. Konsumen banyak dihadapkan pada berbagai pilihan bentuk pangan, baik dalam bentuk segar maupun olahan. Namun tidak semua produk pangan yang ada di pasaran adalah produk yang aman dan sehat.

Tubuh kita merupakan cerminan nyata dari apa yang kita makan. Dengan makan makanan sehat, dihasilkan tubuh yang sehat pula. Di satu sisi, makanan dapat pula menyebabkan sakit atau bahkan kematian. Oleh karena itu makanan atau pangan merupakan elemen penting dalam hidup sehingga makanan yang aman dan sehat merupakan prasyarat yang harus diperhatikan.

Mengapa pangan sehat?

  • · Kasus Keracunan Pangan di Indonesia masih tinggi ( Data BPOM 2009 terdapat korban 7.815 orang dengan jumlah kasus sebanyak 3.239 kasus )
  • · Konsumen pangan lebih menyukai makanan instan dan praktis yang mengandung berbagai bahan kimia.
  • · Banyak produsen makanan yang mengambil keuntungan dengan menggunakan bahan kimia yang berbahaya
  • · Makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya itu akan menimbulkan berbagai penyakit kronis
  • · Perlindungan terhadap konsumen pangan masih lemah
  • · Adanya hasil penelitian dari Departemen Kesehatan : 44 Persen Jajanan Anak Tidak Sehat.

Berdasarkan hasil temuan 28 item sampel jajanan yang ada disekitar sekolah yang tidak memenuhi syarat kesehatan karena mengandung bahan-bahan berbahaya. Seperti formalin, rhodamin B, metanil yellow dan boraks. Dari 28 item yang tidak memenuhi syarat tersebut terdapat dalam mie goreng, legendar (semacam krupuk), bakso goreng, mie sosis, kerupuk lempeng, mie basah, tahu kuning, arum manis, es lilin, es cendol merah, kerupuk singkong dan sempe dari es puter. Semua makanan tersebut banyak ditemukan beberapa SD di Yogyakarta.

 

Bagaimana Pangan Menjadi Tidak Sehat

· Bahaya cemaran biologis adalah bahaya berupa cemaran mikroba penyebab penyakit (patogen), virus, dan parasit

· Bahaya cemaran fisik karena tercemar benda-benda asing seperti pecahan gelas, potongan tulang, potongan kayu, kerikil, rambut, kuku, sisik dan sebagainya.

· Bahaya cemaran kimia adalah bahaya berupa cemaran bahan-bahan kimia beracun yang dapat menyebabkan keracunan atau penyakit jika termakan oleh manusia, seperti residu pestisida, logam berbahaya, racun yang secara alami terdapat dalam bahan pangan, dan cemaran bahan kimia lainnya

 

Penggunaan Bahan Tambahan Makanan Yang Sering Digunakan

· Boraks : biasa digunakan sebagai bahan solder, pembersih, pengawet kayu, antiseptik kayu, pengontrol kecoa. Contoh makanan berboraks antara lain mie basah, bakso, lontong dan kerupuk

· Methanil Yellow adalah zat warna sintetis kuning kecoklatan dan digunakan untuk pewarna tekstil dan cat. Contoh makanan yang menggunakan zat ini adalah kerupuk bawang, ice cone dll.

· Rhodamin B adalah pewarna pada industri tekstil dan kertas, berbentuk serbuk kristal merah keunguan dan sering ditemukan pada kerupuk bawang, kerupuk padang, ice cone berwarna merah, saos, gulali dll.

· Formalin adalah pengawet mayat dan bahan pembunuh hama. Sering digunakan mie basah, tahu, bakso, ikan segar, ayam, ikan asin.

 

Apa itu Pangan Sehat ?

Secara sederhana Pangan atau makanan yang sehat adalah makanan yang bebas dari : kuman, bahan berbahaya, bahan cemaran dan bahan tambahan makanan yang tidak diperbolehkan seperti formalin, boraks, pewarna dll).

Sampai saat ini Gita Pertiwi telah mampu bekerjasama dengan petani untuk menghasilkan bahan pangan sehat terutama beras. Beras yang dihasilkan terdiri dari beras aromatik dan non aromatik. Konsumen dapat memperoleh beras sehat lewat tempat pelayanan produk sehat yang kami kembangkan di tengah-tengah masyarakat agar masyarakat lebih mudah memperolehnya.

Beras sehat yang dihasilkan secara fisik warnanya tidak begitu putih, apabila dipegang tidak terasa licin, apabila dimasak nasi lebih awet dan tidak berubah warna. Sedangkan manfaat yang diperoleh adalah awet kenyang, kesehatan tubuh dapat terjaga.

 

1