Geliat Bangkitnya Tenun ATBM Cawas “Potret Perjuangan Pekerja Perempuan Rumahan”

Jalan Berliku Bangkitnya Tenun Klasik

Bila anda orang luar yang baru pertama kali datang ke Cawas pasti heran dengan situsasi pedesaan di sana. Pagi sampai sore hari tidak banyak masyarakat yang beraktivitas di luar,begitu pula di persawahan sepi tidak terlihat orang beraktivitas. Yang banyak terdengar justru suara”oglek-oglek” di setiap rumah yang ada. Ternyata suara itu berasal dari alat tenun ATBM (alat tenun bukan mesin) yang menjadi sumber pendapatan para perempuan di Cawas. Alat sederhana terbuat dari kayu yang dirangkai sederhana,bahkan terkadang diberi penguat batu/batu bata agar dapat dioperasikan secara manual.

“Ini namanya tustel mbak, bukan tustel untuk mengambil foto lho…alat ini untuk membuat serbet/lap makan,lendang,dan jarik. Kegiatan ini banyak dilakukan ibu-ibu,khususnya yang sudah berkeluarga sampai lanjut usia. Ya…pekerjaannya cuma menggerakkan kayu kering, yang penting dicokot alot (bisa dijadikan sumber membeli pangan keluarga)” kata Bu Yatmi,dari dukuh Kaden,desa Baran.
“Dulu tahun 60 an sampai 70 an,lurik sedang jaya-jayanya, sehingga banyak warga yang memilih berprofesi sebagai penenun daripada pegawai negeri” ungkap Pak Sukardjo,kepala desa Balak. Akibatnya banyak warga yang memilih menjadi buruh tenun ke Pedan, dan itu dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.

Seiring perkembangan tekstil pabrikan tahun 80-an, tenun ATBM mulai tergusur,karena tekstil produksi pabrikan relatif lebih halus dan murah harganya. Hal ini yang mengakibatkan mengapa tenun ATBM banyak ditekuni oleh kaum perempuan, khususnya yang sudah berkeluarga sampai lanjut usia. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena produk yang dihasilkan mayoritas lap makan kualitas kasar, dengan harga jual Rp 1200/meter. Rata-rata satu orang penenun menghasilkan 15 – 20 meter lap makan per hari. Bisa dihitung betapa minimnya penghasilan mereka, sehingga generasi muda di Cawas banyak yang memilih keluar kota untuk bekerja di sektor industri,jasa maupun pegawai negeri.
Suasana itu yang kami temukan di awal-awal pasca gempa bumi 27 Mei 2006. Meskipun kondisi rumah banyak yang rusak dan dalam tahap renovasi, tetapi sebagian ibu-ibu tetap melakukan aktivitas tenun untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan peralatan seadanya.

Pasca bencana gempa bumi, masyarakat membutuhkan sumber pendapatan yang memadai untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Selain mengandalkan sumber penghidupan sebelumnya misalnya pertanian, perlu didorong tumbuhnya upaya baru yang memberi peluang usaha yang memberi pendapatan keluarga dengan mengoptimalkan potensi lokal yang ada. Hal ini sesuai dengan Visi Klaten “Terwujudnya Klaten yang toto titi tentrem kerto raharjo”, dengan salah satu misinya adalah : Menumbuhkan kehidupan perekonomian yang dinamis dengan menumbuhkan kehidupan perekonomian rakyat yang berbasis sumber daya lokal,menjaga kelestarian hidup serta mengurangi kemiskinan.”

Situasi itu mendorong Gita Pertiwi,para perempuan perajin tenun ATBM untuk bangkit berusaha kembali dengan didukung oleh YCAP AIP (Australia Indonesia Partnership), dalam program pemulihan sumber penghidupan perempuan korban gempa di Kab Klaten. Tahap awal program (November 2007 – Juni 2008) fokus kegiatan lebih pada perbaikan sarana produksi (perbaikan alat tenun ATBM,penyediaan modal usaha) dan penguatan kelompok yang dilakukan di 5 desa (Japanan, Pakisan,Balak, Baran dan Tirtomarto). Ternyata kegiatan ini memberikan dampak yang cukup positif,sehingga banyak penenun di desa sekitar yang tertarik untuk meniru dan mengembangkan kegiatan,sehingga penerima manfaat bertambah di 3 desa baru (Bogor,Tlingsing dan Mlese)

Strategi penataan dan perbaikan proses produksi, penguatan kelompok, pengelolaan pemasaran, program ini mampu memotivasi para perempuan perajin tenun ATBM untuk terus berkreasi mengembangkan usahanya. Realita saat ini produk yang dihasilkan tidak hanya serbet kasar, tetapi mereka mampu melihat peluang pasar yang potensial dengan membuat serbet kualitas halus, lendang,jarik,kain lurik yang berkualitas. “Sekarang produk kami dijamin tidak luntur, bukan luntur tidak dijamin” promosi mbak Atun Firnasari dari kelompok Bogor Sejahtera,desa Bogor. Selain pewarnaan yang tidak luntur, generasi muda di Cawas juga mulai tertarik untuk pengembangan modifikasi tenun menjadi berbagai hiasan home interior, tas, dompet,map, dan aneka pakaian jadi.
Sampai saat ini sudah ada 754 perajin tenun ATBM yang menerima manfaat langsung, tersebar di 12 desa di Kec. Cawas (Bogor,Tlingsing, Japanan, Balak, Tirtomarto, Mlese,Baran,Pakisan, Nanggulan, Bendungan, Kedungampel dan Karangasem).

Surat Edaran Bupati Klaten No 025/575/08 tanggal 25 Juni 2008 tentang Uji Coba Penggunaan Pakaian Dinas Lurik/Batik khas daerah berdampak positif (Kedaulatan Rakyat, 10 Juli 2008). Hal ini juga terjadi di Cawas,para perajin lurik mulai mendapatkan order. Hanya sayangnya SE tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan lurik ATBM,akibatnya banyak PNS dan pemerintah desa lebih memilih lurik produk pabrik yang harganya relatif murah. Ini menjadi tantangan dan peluang bagi para perajin tenun ATBM untuk bersaing dengan lurik pabrikan. Dan apabila tidak ada perlindungan dan keberpihakan pemerintah,baik dari pemerintah desa,kecamatan dan kabupaten,maka lurik ATBM akan punah.

Di sisi lain,meskipun menjadi sumber ekonomi pedesaan di Cawas,belum ada satupun RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) di 12 desa yang menjadi area kerja Gita Pertiwi memasukkan lurik menjadi salah satu prioritas perencanaan desa. Pemerintah desa masih memfokuskan pada pembangunan fisik,belum melirik tenun ATBM sebagai potensi ekonomi yang menjanjikan dan mampu menjadi salah satu sumber pendapatan desa.

Untuk mempromosikan produk-produk tenun di 12 desa tersebut,strategi memotong rantai pemasaran dan mendekatkan konsumen dengan produsen dirasa efektif. Pengalaman Gita Pertiwi membuktikan bahwa konsumen akan lebih menghargai produk yang dikonsumsinya kalau mereka tahu bagaimana memproduksi produk tersebut. Sistem pemasaran kolektif/bersama dalam kelompok,dirintis dalam bentuk membangun outlet,baik di tingkat produsen maupun outlet bersama di tempat-tempat strategis. Sampai saat ini sudah berdiri 6 outlet produsen,yaitu Omah Lurik (desa Bogorz0, Najma (desa Tlingsing), Griya Lurik (desa Balak), Pujiya, Barokah dan Melati (desa Baran). Ada dua outlet bersama yang sebagai display dan sarana promosi hasil semua produk kelompok, yaitu Temon (Cawas) dan 3-G-Gita Goes Green- (Solo).

Pembukaan outlet ini ternyata mampu menarik animo pengunjung dari luar. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya pengunjung yang datang dari luar wilayah meskipun tahap awal hanya sekedar penasaran untuk mampir dan tahu. Kalangan pegawai negeri,pemerintah desa, pengusaha garment, ibu-ibu perkotaan, anak sekolah,mass media dari wilayah Jateng-DIY mulai berdatangan untuk lebih mengenal produk tenun. Berdasarkan kondisi tersebut,maka Pemerintah desa Tlingsing dan Gita Pertiwi berinisiatif mengelola animo kunjungan orang luar ini menjadi satu paket kegiatan yang menarik, dengan memadukan unsur belanja, wisata dan pendidikan. Tahun 2010 menjadi titik awal bagi desa Tlingsing (sebagai pilot proyek) merintis desa wisata.

Pelajaran berharga lain yang diperoleh para perempuan pengrajin tenun klasik ini adalah bahwa keberadaan mereka tidak diakui oleh orang lain,baik keluarga,masyarakat/lingkungan dan pemerintah bila mereka sendiri-sendiri. Satu-satunya jalan untuk meningkatkan posisi tawar adalah dengan membangun organisasi. Koperasi Serba Usaha mulai dirintis oleh para perempuan di 4 desa,yaitu Bogor Sejahtera (desa Bogor), Tirta Manunggal (desa Tirtomarto) dan Makmur Rasa Sejahtera (desa Baran dan Mlese).
.
Tantangan dan Peluang

Semakin banyaknya orang luar yang melirik produk tenun klasik Klaten,mengakibatkan drevisinya SE Bupati dengan SE baru No 65/77/06/2010 yang mewajibkan pegawai negeri sipil (PNS) memakai seragam lurik dua hari dalam sepekan. Bukan hanya kalangan eksekutif yang merespon fenomena ini, di legislatve pun juga. Peraturan kewajiban penggunaan seragam lurik bagi anggota DPRD Kab. Klaten tahun 2009 – 2014 menurut Wakil Ketua Pansus Tatib DPRD Klaten, Sunarto tertuang dalam Pasal 98 ayat 3 Bab VI tentang Persidangan dan Pengambilan Keputusan dari rancangan Tatib terkait. Pasal itu berbunyi, ”Dalam hal tidak ada acara rapat dan kegiatan tertentu pimpinan dan anggota DPRD memakai pakaian sipil menggunakan pakaian lurik berlencana DPRD Klaten.” Ini tentunya menjadi peluang bagi para pengajin untuk memasarkan produknya.

Hanya sayangnya ke dua peraturan tersebut di atas tidak secara spesifik menyebutkan bahwaseragam yang dipakai adalah produk lokal dari Klaten. Hal ini terlihat di pasar-pasar tradisional maupun pasar swalayan mulai membanjir produk lurik pabrikan,baik dari dalam negeri maupun luar negeri (khususnya China dan India) yang dapat diperoleh dengan harga relatif lebih murah dibanding lurik klasik produk Klaten. Selain berharga murah,produk lurik pabrikan ini kualitasnya juga lebih baik dibanding lurik klasik. Ini menjadi tantangan bagi para pengrajin lurik untuk mempertahankan kontnuitas produknya (kualitas dan kuantitas). Salah satu ciri khas lurik klasik adalah kainnya cenderung mengkerut setelah dicuci, tebal dan luntur.

Sekali lagi..apa yang diproduksi oleh para perempuan di Cawas khususnya dan Klaten pada umunya bukan sembarang tenun. Tenun yang mereka hasilkan dibuat dengan perasaan, dibutuhkan ketekunan dan keahlian tinggi dari proses pemintalan benang,pewarnaan,menata benang dalam alat sekir untuk membuat motif/corak, dan semuanya dilakukan secara hand made. Ini tenun klasik, bukan produk tenun yang dapat dibuat dalam waktu singkat,dalam jumlah banyak seperti yang dilakukan di pabrik. Karena keunikan ini, perlu ada penghargaan lebih bagi para pengrajin tenun ini. (Titik)

Salam Lestari

Also when changing to phone calls would pressing the button on the microphone put the view printer site iphone into voice command mode
Share:
RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
Twitter